Ayahku
Nama : Muhammad Sabhan Rabbani
NIM : 12001043
Deskripsi Biografi : Ayah
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Kini aku akan menceritakan keluargaku terutama Ayahku. Tak terasa kini ayah ku sudah berumur 48 tahun. Beliau merupakan seorang pahlawan yang berjasa bagi hidupku saat ini. Dia mengajarkan ku tentang bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab serta mengajarkan kebaikan kepadaku. Ayahku bernama Abdul Wahab ia lahir di Pontianak, 3 januari 1972. Ayahku dulu tinggal di Tambelan Sampit kemudian ia mendapatkn jodohnya di Jalan perdana yaitu ibuku yang bernama Sainah. Ayahku dulu Sekolah Dasar di SDN 12 Pontianak Timur kemudain melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Haruniyah dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Mujahidin mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA. Ibuku lahir di Pontianak, tanggal 30 November 1973. Awal kisah ayahku menikah dengan ibuku ialah ayahku berjumpa dengan dia di salah satu Toko fotocopy di jalan Veteran. Akhirnya ia berdua menikah pada tahun 2001 dan sekarang mempunyai 4 anak. Yang pertama Namanya Muhammad Sabhan Rabbani yaitu aku, yang kedua Namanya Mutia Ayu yang sedang duduk di bangku SMP Nurul Whadah kelas 9, ketiga Namanya Jihan Natasya yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Pontianak kelas 4, dan yang terakhir Namanya Kayla Azzahra yang kini usianya 3 tahun lebih. Ibuku dulu sekolah di Sekolah Dasar Negeri 01 Pontianak yang kini telah menjadi lahan parkir hotel neo, kemudian melanjutkan lagi ke sekolah menengah pertama di Madrsah Tsanawiyah Negeri 2 Pontianak, dan terakhir melanjutkan pendidikan menenagh ke atas di Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak.
Alhamdulillah kehidupan dikeluarga kami sangatlah bercukupan. Kedua orang tuaku masih lengkap, aku merasa sangat bersyukur sekali. Ayahku merupakan seseorang yang tegas dalam mendidik anak-anaknya baik aku dan adik-adikku. Meskipun tegas tetapi ayahku sangat sabar dalam mendidik anak-anaknya. Ia menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses kedepannya. Ayahku mendidik anak-anaknya mulai dari hal-hal yang kecil hingga hal yang besar. Contohnya ia mengajarkan kepada aku dan adik-adikku mulai dari hal-hal yang kecil cara beres-beres rumah, rajin membantu kedua orang tua dan hingga hal-hal yang besar yaitu menjadi orang yang bertanggung jawab, sholat dan mengaji. Ia mengajarkn aku bagaimana caranya membaca al-qur'an yang benar dan melatihku untuk menjadi imam nanti apabila aku sudah berkeluarga. Banyak hal-hal yang harus aku pelajari dari ayahku.
Ayahku bekerja keras untuk menyekolahkan aku dan adik-adikku supaya menjadi orang yang berhasil dimasa yang akan datang. Kini aku menduduki di bangku perguruan tinggi ayahku bekerja keras agar aku bisa kuliah saat ini. Dulu ayahku mengikut temannya kerja di Malaysia mengelas kapal disana. Setelah menikah dengan ibuku, ayahku tidak berangkat lagi ke Malaysia. Penuh perjuangan ayahku bekerja disana untuk menyekolahkan adik ayahku agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ayahku dulu pernah membuka bengkel las di jalan Ampera, mulai dari kayu-kayu membangunnya kemudian pindah ke belakang karena ada ruko ayahku menyewa ruko itu. Adik ibuku sudah lama mengikuti ayahku bekerja. Namun tidaklah lama membuka usaha disitu karena sangtalah mahal untuk membayar nyewa ruko tersebut. Ayahku membangun bengekel disamping rumahku ayahku berkerja disamping rumah membuka usaha bengkel Las. Selain membuka usaha Bengkel Las, ayahku mengajar ngaji keponakan-keponakannya. Pada saat itu ayahku meyuruh aku dan adikku menghafal Al-Qur'an apabila ada lomba-lomba yang bernuansa agama ayahku menyuruh aku dan adikku ikut. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari ayahku. Apabila aku sudah sukses nanti aku ingin menaikkan kedua orang tuaku ke tanah suci mekkah. Aamiin. Akan kubalas semua jasa-jasa yang telah diberikan kepadaku yang telah mendidik aku dari kecil hingga saat ini. Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku yang telah susah payah mendidik aku dari kecil hingga menyekolahkanku sampai masuk perguruan tinggi.
Aku dan adikku dulu pernah mengikuti berbagai kegiatan lomba tahfidz di masjid Sirajul Munir yang di dampingi oleh ayahku dan pengurus masjid TPA ku disini. Alhamdulillahnya pada waktu itu berhasil meraih juara harapan satu dan adikku juara tiga, ayahku sangat bangga kepada kami berdua dan membawa nama baik Masjid di tempatku dan Ibuku juga sangat bangga. Hampir seluruh saudara sepupu ku yang mengikuti kegiatan lomba tersebut. Alhamdulillah sekarang saaat ini adikku masih mengikuti kegiatan lomba-lomba tersebut mewakili provinsi ia mengikuti lomba Musabaqah Tilaqatil Qur’an atau MTQ. Adikku saat ini menghafal Qur’an sudah 5 juzz yang dibimbing oleh ayahku, aku sangat bang kepada ayahku. Aku dulu pernah juga menghafal al-quran hampir 1 juzz, tidak lama kemudian aku jarang sekali menyetor hafalan kepada ayahku akhirnya hafalannya hilang. Ayahku menyuruh juga aku menjadi imam di masjid tempatku, namun aku belum siap “hehe”.
Alasan megapa ayahku memilih ibuku menjadi istrinya, karena ibuku ini sangatlah pintar memasak, penyabar dan sangat sayang kepada anak-anaknya. Bisa dibilang keluargaku ini sangatlah harmonis. Tiap malam rumah ku ini sangatlah terasa ramai karena ocehannya adikku ini sangatlah membuat suasana rumah menjadi lebih ramai, namun kalau si kecil tidak ribut dengan ocehannya dirumah suasana dirumah ini sangatlah sepi. Dulu ayahku sering mengajak kami pergi makan sebelum adikku yang paling kecil lahir, namun setelah lahirnya adikku yang paling kecil aku sudah jarang ikut pergi, dan aku menunggu di rumah karena motor sudah tidak muat. Aku mempunyai cita-cita ingin membeli sebuah mobil untuk keluargaku nanti. aku sekarang kuliah di perguruan tinggi di Pontianak yaitu Institut Agama Islam Negeri Pontianak yang tidak lama lagi akan menjadi UIN atau Universitas Islam Negeri Pontianak. Waktu masih sekolah guru BK ku bu Tri menanyakan kepada siswa-siswinya siapa yang mau ikut SPAN-PTKIN, awalnya aku tidak tahu apa itu SPAN. Kemudian aku ikut daftar bersama temanku, aku memilih prodi pertama Pendidikan Agama Islam dan kedua aku memilih prodi Syariah atau FEBI. Aki memilih lokasi nya pada waktu itu di Pontianak dan Yogyakarta. Tak lama kemudian pada waktu pengumuman SPAN aku takut aku tidak lolos masuk IAIN, ternyata alhamdulillah aku lulus IAIN melalui jalur SPAN-PTKIN dan masuk di program studi Pendidikan Agama Islam. Akhirnya aku tahu kalau SPAN itu seperti SNMPTN masuk kuliah tanpa tes. Aku mengasi tahu kepada ayah dan ibuku mereka sangat bersyukur dan bangga sekali kalau aku masuk kuliah tanpa tes sama sekali. Akhirnya aku meringankan beban ayahku untuk masuk kuliah, ayahku memang menyuruh aku melaanjutkan kuliah di Universitas yang bernuansa agama islam karena disana kita bisa mempunyai bekal yang cukup nanti apabila kita sudah berada di lingkungan masyarakat dan keluarga. Ilmu yang kita pelajari akan menjadi bekal kita nanti di akhirat dan dunia. Ayahku memanglah pahlawan yang tidak ada duanya. Aku tidak akan mengecewakan kedua orang tuaku yang telah mati-matian mencari rezeki untuk menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. Aku ingin menjadi orang yang sukses, dan aku mempunyai cita-cita aku ingin bekerja di Kemenag setelah lulus dari IAIN ini. Terima kasih ayahku yang sudah memberikan terbaik untuk anak-anaknya.